Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA ,FNA melaporkan, sejumlah warga Turki di istanbul hari Senin (21/2/2022) menggelar aksi unjuk rasa dengan membakar resi tagihan air dan listrik sebagai kelanjutan dari protes terhadap tren kenaikan biaya hidup.
Sejumlah warga Istanbul di distrik Kadikoy membakar resi tagihan air dan listrik mereka, dan mendesak pemerintah menghentikan lonjakan harga yang terus meroket.
Protes itu dilakukan sebagai tanggapan atas seruan dari partai-partai demokratis Turki.
Para pengunjuk rasa membawa plakat bertuliskan "Turunkan Tagihan yang Melonjak Naik", "Anggaran untuk Pekerja, Bukan untuk Istana" dan "Pemerintah Mundur".
Perintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang mengalami masa-masa sulit. Lira telah terdepresiasi tajam, inflasi melonjak, kemiskinan meningkat, dan popularitas Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa anjlok.
Meskipun Erdogan berulang kali berjanji untuk mengakhiri krisis ekonomi dalam waktu dekat, tapi semua upayanya untuk menyelesaikan masalah sejauh ini gagal.
Presiden Turki mengklaim bahwa masalah suku bunga telah berkurang dan saat ini memasuki stabilitas nilai tukar.
Pernyataan itu muncul di tengah maraknya aksi demonstrasi di berbagai kota di Turki yang memprotes kenaikan harga, dan inflasi telah menjadi berita utama media negara itu.
Orang-orang Turki beberapa hari lalu juga memprotes kenaikan harga tarif listrik dan meneriakkan slogan "Erdogan Mundur".
Setelah jatuhnya mata uang Lira akhir tahun lalu, karena kebijakan pemerintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, inflasi di Turki melonjak hampir 50 persen yang menyebabkan biaya hidup di Turki meroket. Sebagai tanggapan, pemerintah menaikkan upah minimum sebesar 50 persen, tetapi juga menaikkan harga tarif gas, listrik, bensin, dan tol.(PH)
342/